Tuhan dan Tikus
By: win_cah angon
Hampir satu jam aku hanya ditemani kepulan asap rokok, sahabat yang tak pernah lelah menghibur di setiap kegundahan hatiku. Di ruang ini seperti hari-hari biasanya aku menyibukkan waktu malasku bersama buku. Dalam satu tahun ini, memang hanya buku dan rokok yang kurasa setia menemaniku. Mereka lah yang patut aku curhati, sebab mereka sangat paham dan memang mau memahami. Malam ini aku menyanyikan kesepianku lewat segelintir rokok kretek, sebab layak nya aku, ia pun merasa sendiri tanpa kehadiran pasangannya, secangkir kopi. Begitu juga buku yang aku baca ini, ia juga tak kalah asyik berdialektika dengan kebingunganku, ia pun meratap kesepian tanpa belaian sang pengarang atau pun pembaca.
Aku tak menyangka kita bertiga bisa ketemu, hanya sekedar lewat kebingungan. Bingung tanpa kekasih. Ya, dari sebuah kebingungan, keadaan yang mungkin remeh dan menjengkelkan bagi kebanyakan manusia, ternyata tidak sedikit tersimpan hikmah yang luar biasa. Sambil ku buka sebuah buku, yang konon juga lahir dari sebuah kebingungan seorang anak adam. Dan aku yakin kalau semua karya pada hakikatnya adalah monument kebingungan yang mengkristal dari konflik pribadi seorang tokoh.
Ah, nikmat rasanya……..ku sela bacaanku dengan hisapan asap kerinduan. Ternyata sang kretek pun cemburu ketika aku tengah ditimang lembaran kebingungan.kemudian tiba-tiba aku terbius candu api kesangsian, melayang melewati batas rasio. Mengkerut keningku seraya menatap langit-langit rumahku yang kerap disinggahi oleh rintik-rintik air hujan dari surga. Aku pun teringat nasihat seorang ibu kepada anaknya kemarin yang sedang berpamitan entah mau kemana ia kan berkelana yang jelas sangat jauh katanya. Sang ibu pun meneteskan air mata sambil berkata “Jaga diri baik-baik nak,…………. jangan lupa sama yang di atas”.
Aku masih menikmati segudang masalah dengan segebok pertanyaan “nakal”. Hisapan sebatang rokok ini adalah sebuah hujjah ampuh yang merasuk ke dalam sel-sel kerisauan. Akhirnya ku letupkan juga segumpal demi segumpal masalah. Lega rasanya.
Satu kata yang sangat kuat menusuk dada, menjalar bersama peredaran darah ke penjuru organ, menempel pada paru-paru, jantung, limpa, usus, ginjal, bercampur nikotin sejuta rasaku, hingga singgah di hati terdalam. Empedu tak mampu menetralisir racun-racun yang mengelikan. Saking gelinya mungkin para malaikat terusik, terbangun dari tidurnya, atau justru sebaliknya, mereka malahan menertawaiku.
“tuhan”, kata itu yang terus bergejolak, naik-turun, dibolak-balikkan oleh al-qolbu. Bergejolak. Gema irama suara sahut-menyahut antara hati dan akal, mengusir kesepian. Ruangan ini penuh, sesak dengan kegaduhan; sebuah debat dahsyat antara dua sumber kebenaran, layaknya sebuah ritual sistem demokrasi kita saat ini, penuh dengan suara sumbang kampanye para kandidat (calon) pejabat, yang tak ada habisnya. Dalam sebuah buku pernah kujumpai “tuhan itu maha adil, ia ada dimana-mana……ia tidak akan disebut “Tuhan”, kalau memang tidak memberi kontribusi kontribusi yang nyata bagi alam, manusia…….dan kehidupan sosial.”
“Jadi tuhan akan sangat mudah dicopot pangkatnya, manakala ia tidak dapat membumikan sifat-sifatnya.” Kata si akal.
“Ah, terlalu mentah kau menyimpulkan,” si hati membantah dengan tenangnya “ bagaimanapun hasil analisa berbagai pisau logikamu tak setajam sentuhan sutraku, yang sudah terbukti bisa melanglang lintas dimensi. Mustahil kau dapat menemukan Tuhan-- sesuatu yang immateri, wong memahami dirimu sendiri saja gak tuntas-tuntas. Ruwet dengan berjuta logika yang lahir dari rahimmu.” Sungguh hati-hati cara si hati melontarkan idenya.
…………………………………………………………………………..
“thek…..thek……thek….” Lembut suara jam dinding menyela ricuh perhelatan ide antara dua kutub, si hati dan si akal.
Seperti biasanya waktu menunjukkan pukul 00:00, munkin ini skor nilai dari perdebatan kesatuan hati dan akal. Draw hasilnya, tak ada yang menang atau kalah. Rokokku pun telah meninggalkan abu dan baunya, setelah dirasa sudah selesai tugasnya, menemaniku. Tinggal buku yang akhirnya sedikit-sedikit menutup diri sambil termangu mengintip dialektika dalam diriku.
Terimakasih dua sahabat setiaku, Rokok dan Buku. aku tau kau tak pernah selingkuh atau pun sakit hati karena sikapku kepadamu. Maaf kan aku sahabat-sahabatku. Sampai jumpa di malam-malam berikutnya…………sayonara..!
Ku masih mendengar si hati dan si akal saling menggerutu beriringan dengan irama detik jam dinding.
“tu……han”
“han….han….tu”
“tu …..tu….han”
“tu…………”
“han………”
“han………..”
“tu……………”
“tu….han......han”
“han..tu…tu”
………..…………………………….”tuh…….tuhan”
“Tuhan”…………………………………….
Kembali ku mengkerutkan keningku seraya menatap ke atas langit-langit rumahku. Aku hanya mendapatkan seekor tikus di sela-sela langit-langit rumahku, mondar-mandir bak orang yang gundah, bingung tak sabar menanti sang kekasih.
Akhirnya masih juga aku membawa sisa-sisa pertanyaan nakal ku ke alam mimpi; alam tanpa aturan atau pun penghakiman.
????????0-0?????????
!
Tulisan Jadul
0 komentar:
Posting Komentar