Quo Vadis Gerakan Pemuda?
Renungan atas Kiprah GP Ansor dalam Realitas Kebangsaan
oleh: winartono
(koordinator kajian dan pelatihan LAKPESDAM NU Kota Malang)
Dalam
perjuangan sebuah bangsa, pemuda adalah elemen penting dan vital selain
elemen-elemen lainnya. Sejarah masa lalu telah benar-benar membuktikan akan
sangat pentingnya kiprah pemuda, mengingat secara psikis, naluri pemuda
dipenuhi dengan semangat ‘membara’.
Sehingga kemudian menjadi penting untuk “mewadahi” energi positif semangat para
pemuda. Hal ini terbukti dengan munculnya gerakan-gerakan pemuda seiring dengan
tantangan imperialisme di masing-masing zaman, semisal tahun 1908 berdiri
organisasi pemuda Boedi Oetomo,
hingga muncul gerakan massive pemuda
pada tahun 1928 yang akhirnya menghasilkan buah “Sumpah Pemuda”. Dan di antara
gerakan-gerakan pemuda tersebut, ada gerakan pemuda yang jarang disinggung oleh
buku-buku sejarah bangsa ini, padahal kehadirannya memberikan kontribusi yang
sangat besar dan berharga. Gerakan itu adalah Syubbanul Wathon (Pemuda Tanah Air, 1924), yang dalam perkembangan
selanjutnya mengalami metamorfosa perubahan nama, antara lain; Persatuan Pemuda
NU (PPNU, 1931), Pemuda NU (PNU, 1932), Ansoru
Nahdlatul Oelama’ (ANO, 1934), dan sampai sekarang menjadi Gerakan Pemuda Ansor
(GP Ansor, 1949).
Perubahan
nama di atas tentunya didasari konteks dan kebutuhan masing-masing zaman. Dalam
hal ini kita bisa mengambil satu pesan bahwa memang pemuda sudah semestinya
mengambil peran serta berkontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pemilihan
“Ansor” sebagai nama wadah gerakan kaum pemuda NU adalah sangat tepat. Penamaan
ini berangkat dari saran seorang ulama’ besar NU, KH. Abdul Wahab Chazbulloh,
yang terilhami dari nama satu kelompok sahabat Nabi Muhammad SAW yang ada di
Madinah. Disebut ‘Ansor’ karena sifat dan perilaku mereka yang suka-rela berjuang
untuk agama Allah, menolong rombongan Nabi, kaum Muhajirin Makkah. Dari ibarat
inilah, GP Ansor secara kelembagaan mempunyai komitmen luhur untuk meneladani
Sahabat-Sahabat Ansor di Madinah. Sehingga, setiap anggota dan kader GP Ansor
NU diharapkan mampu menjadi penolong, pejuang, pelopor bagi perjuangan bangsa Indonesia.
Dalam
sejarah perjuangan Bangsa dan Negara
Indonesia, Organisasi Pemuda—yang punya hubungan erat dengan NU ini—selalu siap
menjadi garda depan. Keikhlasan serta suka-rela adalah citra yang inheren
padanya. Pengabdiannya tidak sebatas diperuntukkan kelompoknya sendiri, kaum Nahdliyin. Ansor benar-benar berkhidmah untuk bangsa dan kehidupan
secara umum. Hal ini terlihat semisal, GP Ansor dengan Barisan Serbagunanya
(Banser) mau dan mampu memberi rasa aman pada kelompok minoritas atau berbeda
agama dan keyainan.
Disamping,
siap setia mengawal para Ulama’ GP Ansor—dalam sejarah masa lalu—benar-benar
mampu menampilkan wajah ramah-inklusif, tegas serta berkharisma.
Warna Gerakan
Pada
dasarnya GP Ansor adalah organisasi pengkaderan kepemudaan, meski pada
perjalanannya mengalami pergeseran peran dan fungsi. Tidak jarang GP Ansor ikut
hanyut dalam dunia politik praktis, hingga dirasa proses pengkaderan tidak berjalan
maksimal, seperti apa yang digariskan oleh Organisasi.
Keterlibatan
GP Ansor dalam dunia politik praktis dianggap oleh beberapa tokoh sebagai efek
dari pasca reformasi 1998. Pasca reformasi ini lah warna atau karakter gerakan
GP Ansor semakin tidak jelas. Ketidak jelasan warna atau karakter gerakan ini
semakin mereduksi fungsi pengkaderan kepemudaan GP Ansor. Dan ironisnya, hal
ini tidak hanya menggejala di Organisasi Pemuda Nahdliyin ini, tapi juga organisasi kepemudaan (OKP) lainnya.
Sudah
saatnya GP Ansor berusaha mengembalikan ‘ruh jihad’ para pemuda, dengan
mengembalikan mereka (OKP) sebagai sentrum gerakan perjuangan kebangsaan. Dan
dengan begitu GP Ansor menemukan wujud-rupanya yang asli—yang sebenarnya;
sebagai organisasi yang mempunya watak kepemudaan, kerakyatan, ke-Islam-an dan
kebangsaan. Ketika Ansor mampu melakukan hal ini, secara otomatis warna
gerakannya akan semakin terang dan cerah, secerah naluri semangat pemuda.
Kemudian Ansor pun benar-benar fokus pada kepemudaan (pengkaderan), sehingga
memperkecil kemungkinan konflik dan overlapping
dengan organisasi induknya, yaitu Nahdlatul Ulama’ (NU).
Ansor dan gerakan pemuda kedepan
Ke depan,
sudah tentu GP Ansor harus berbenah diri untuk siap menjawab permasalahan zaman
khususnya terkait kepemudaan, kerakyatan, ke-Islam-an dan kebangsaan. Masih
banyak kiranya, hal-hal yang belum dan perlu diperhatikan serta disikapi oleh
Ansor, semisal dalam hal peran pemuda dalam sains dan teknologi, penguatan
ekonomi kerakyatan.
Kongres
ke-14 GP Ansor yang dijadwalkan pada
tanggal 13-17 Januari ini, sudah semestinya dijadikan momen refleksi dan
evaluasi internal sekaligus memikirkan gerakan kepemudaan secara umum. Kongres
pun tidak hanya dimaknai sebagai ajang kontestasi para elite GP Ansor. Padahal,
banyak hal penting yang semestinya menjadi bahan perbincangan. Pemuda Ansor
seharusnya lebih tertarik pada wacana ‘sejauh mana Ansor berkontribusi pada
kehidupan’ atau ‘apa yang seharusnya kita lakukan kedepan’, tidak hanya sibuk
dan asyik dengan wacana kandidat ketua.
Dengan
menjadikan Kota Surabaya sebagai tempat kongres kali ini, kita semua berharap bisa
mengambil pelajaran pada 14 Desember 1949, dimana Ansor lahir kembali.
Sehingga, kongres GP Ansor kali ini bisa menjadi momen berbenah diri.
Dengan
semangat ”Syubbanul yaum rijalul ghod”
(pemuda hari ini adalah tokoh pemimpin masa depan), GP Ansor harus selalu
optimis menatap masa depan. Semoga, hasil-hasil kongres ke-14 ini menjadi
rumusan yang barokah, bermanfaat
khususnya bagi warga Nahdliyin dan
umumnya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan, siapa pun yang terpilih
sebagai pemimpin GP Ansor pada kongres kali ini, semoga adalah yang terbaik.
Semoga.
(tulisan jadul)

0 komentar:
Posting Komentar