Di Balik
Ke-Sexi-an Diskursus (Gerakan) Perempuan[1]
Oleh: Winartono[2]
(disampaikan pada
Sekolah Kader Putri)
Muhaasabah
Sudah
banyak tulisan, buku bahkan berlanjut pada seminar hingga menjadi ‘gerakan’
tentang perjuangan perempuan. Yang terpenting dan ‘terseksi’—selain perempuan
itu memang cenderung sexi—adalah ‘perjuangan perempuan jika
‘dihamparkan’ pada dialog diskursus keagamaan. Sudah mafhum pro dan
kontra akan ‘menyelimuti’ nya, hingga pada suatu kondisi jauh dari (pembahasan)
perjuangan perempuan itu sendiri. Wal-hasil diskursus teresebut hanya
lebih banyak berimplikasi pada perpecahan dan tak jarang ‘berakhir’ dengan
hasil yang tak jelas.
Kondisi
di atas kemudian juga—dimainkan/tidak—semakin menguatkan posisi sub-ordinasi
perempuan. Meski menjadi sebuah wacana menarik, Perempuan serta perjuangannya
seringkali menjadi terkaburkan (kabur/dikaburkan?). Peran yang cukup ‘menonjol’
perempuan pada setiap masanya—baik dalam sejarah nusantara atau pun
arab-islam—hanya sebatas menghiasi pro-kontra dialog antar ‘kepentingan’. Hal
tersebut juga semakin diperjelas tingkat ‘ke-kabur-an’nya oleh
bermacam-macamnya tafsir para sejarahwan[3] atau pun para akademisi.
Terkadang dengan sedikit optimis, saya menyatakan bahwa ‘perempuan’ akan
menjadi semacam salah satu ‘komoditas wacana’ yang terus menarik untuk diperdebatkan.
Dalam
rangka memperjuangkan harkat-derajat perempuan—tanpa ada niat menggurui—saya
lebih menyarankan para perempuan atau ‘pejuang’ perempuan (yang tentu tidak
hanya dari golongan perempuan) untuk selalu berhati-hati dalam
menentukan sikap dan tindak terutama dalam kaitannya dengan diskursus gender,
emansipasi, feminisme atau diskursus lain terkait ‘perjuangan perempuan’.
Bagi
kader putri PMII sudah tentu harus ‘membaca’ literatur-literatur terkait
kemudian mendiskusikan dan mencermatinya sebagai ‘teks’. Perlu juga, asbabul
wurud dan nilai-kepentingan dibalik ‘teks’ tersebut juga tak luput dari
perbincangan. Sebagus apapun ‘teks’ tersebut ‘kecurigaan’ (kritis) perlu
dihadirkan, paling tidak sebagai filter pertimbangan.
Menengok sekilas kebelakang
Peran
perempuan dari masa ke masa semestinya sudah lebih dari cukup untuk sekedar memperkuat
kodrat/posisi perempuan—misalnya—tidak hanya berkesempatan pada hiruk-pikuk
domestik. Jika dilihat sekilas, kita bisa ‘menengok’ ke belakang keterlibatan
perempuan pada ranah publik, yang tentunya bisa dijadikan referensi penguat
gerakan perempuan pada hari ini. Kapasitas dan kapabilitas kaum hawa di ranah
publik bisa kita lihat pada model-model figur semisal: di Al-Quran ada Kisah
keluarga Madyan, Asyiah (istri Firaun), Ratu Bilqis, Maryam (Ibunda Isa AS);
dilanjutkan dengan peran perempuan-perempuan zaman Rasul Muhammad yang cukup
mewarnai seperti Sayyidah Khodijah (pebisnis yang kemudian juga mendanai dakwah
Rasul). Perempuan juga ikut andil dalam
perang zaman awal Islam yang tidak hanya sebagai tenaga medis, tetapi juga ikut
perang fisik, misalnya Aisyah binti Rasul, Ummu Imarah binti Ka’b, Khafsah dll.
Model-model
public-figure di atas jika kita pelajari sudah cukup untuk menjadi semacam
‘legitimasi’ keterlibatan perempuan dalam ranah publik—terutama dalam kaitannya
dengan diskursus keIslaman. Sedang dalam konteks ke-Indonesia-an atau Nusantara
kita mengenal sederet model aktor sejarah (berjenis) perempuan; misalnya
Tribuana Tungga Dewi (1328)[4] yang pada perjalanan
selanjutnya memunculkan raja-raja besar Majapahit, Sultanah Seri Ratu Tajul
Alam Safiatuddin Johan (kerajaan Aceh 1641-1699), Siti Aisyah We Tenriolle
(ratu Tanette/Sulawesi Selatan 1856),Ratu Aji Sitti (Kutai).
Lebih kuat
lagi kita bisa membaca peran-keterlibatan perempuan pada era perjuangan bangsa
Indonesia. Nama-nama pejuang dari golongan kaum hawa cukup mewarnai perjuangan
melawan penjajah kolonial, seperti: RA. Ageng Serang, Tjut Nya’ Dien, Tjut
Meutia dll. Peran perempuan semisal RA. Kartini juga sangat berpengaruh bagi
pergeseran nilai derajat atau peran perempuan hingga hari ini.
Emansipasi
perempuan di Indonesia pada ‘episde’ selanjutnya memunculkan kelompok-kelompok
atau organisasi-organisasi berbasis perempuan. Meski masing-masing
organisasi/kelompok tersebut didirikan atas dasar nilai yang berbeda. Tercatat,
untuk mengimbangi serta mendukung Boedi Oetomo, Putri Mardika (1912),
Kautamaan Istri (1913) muncul. Kelompok lainnya adalah Sopa Trisno diprakarsai
oleh Nyai Ahmad Dahlan (sebagai embrio Aisyiah), Muslimat NU, Wanodya Utomo
(poros kelompok Sarekat Islam). Masing-masing golongan mempunyai karakter dan
‘cita-rasa’ perjuangan perempuan yang berbeda-beda. Belajar dari sini
keberadaan KOPRI sangatlah perlu—meski sebagian tidak menganggapnya penting.
Demistifikasi Diskursus Perempuan
Tidak
jarang nilai perjuangan perempuan dikaburkan dengan kuatnya mitos-mitos tentang
perempuan, yang pada intinya berujung pada kata akhir “lemah” alias
sub-ordinat. Diskursus perempuan sering kali ‘dimainkan’ sedemikian rupa hingga
tanpa sadar pejuang perempuan atau pun perempuan itu sendiri ‘meng-amini’ bahwa
dia/mereka (perempuan) adalah manusia ‘kelas dua’. Ini lama-lama juga
menjadi mitos yang kuat. Padahal—menurut hemat saya—tidak perlu
mempertentangkan ‘jenis kelamin’ kita. Terutama pada era sekarang—dan di Negara
yang berlandaskan demokrasi—mempertentangkan perempuan dan laki-laki sebagai
entitas golongan tidak lah ‘membuahkan’ manfaat yang berarti.
Untuk
membendung mitos-mitos dan sekian narasi yang pada akhirnya melemahkan
peran perempuan di satu sisi dan semakin mempertentangkan perempuan dan
laki-laki di sisi lain—perlu kiranya melakukan demistifikasi terhadap diskursus
danmitos yang berkembang dan ‘melembaga’.
Demistifikasi
adalah upaya strategis untuk—pada tahap awal—memecahkan sakralitas hingga –pada
kerangka filosofis—menggantikan mitos-mitos yang sangat patriarchal
menjadi logos (‘mitos baru’) yang emansipatoris atau—dalam terminologi aktifis
perempuan—responsif gender.
Demistifikasi
juga harus dilakukan pada wacana bahwa perempuan adalah makhluk kelas dua
dengan laki-laki sebagai kelas pertama. Bahkan lebih jauh dari itu, lagi-lagi
perempuan dan laki-laki adalah sama-sama makhluk tuhan yang mempunyai
dwi-fungsi; hamba sekaligus khalifah Allah di bumi. Demistifikasi dengan kata
lain adalah upaya keber-hati-hatian (aktivis) gerakan perempuan dalam rangka
menuju tindakan emansipatoris.
KOPRI sebagai wadah gerakan perempuan Islam-Indonesia
Hal lain yang urgen dan
penting untuk didiskusikan lebih lanjut adalah merumuskan secara lebih
paradigmatik atas corak warna gerakan Korps PMII Putri (Kopri). Meski
permunculannya tergolong ‘belakangan’, Kopri jangan sampai terjerembab dalam
budaya ‘latah’ terhadap isu emansipasi [5]perempuan. Dengan begitu
Kopri benar-benar menjadi gerakan yang genuine meski dalam prosesnya
tetap mempelajari bermacam-macam gerakan perempuan yang ada.
Rumusan paradigma gerakan penting adanya. Sebab dengan perumusan yang
jelas, sebagai konsekwensi logis, akan menentukan simbol-simbol atau ikon-ikon khas
Kader Putri PMII yang berbeda dengan lainnya. Apa lagi dalam kajian
ideologis, sketsa paradigma juga akan berimplikasi pada karakter fashion
(appearance dan permormance). Dalam hal ini, saya rasa Kopri
masih belum ‘jelas’.
Pembahasan paradigma atau corak
gerakan—menurut hemat sama—lebih perlu dilakukan untuk saat ini dari pada
pembahasan ruwet tentang posisi Kopri di PMII atau bahkan hanya sekedar diributkan
dengan “apakah kopri harus dipilih langsung (voting) atau bagaimana”.
Bagi saya hal semacam itu tidak akan bermanfaat nyata terutama bagi kader di akar
rumput.
Lebih lanjut gerakan emansipasi
ala Islam-Indonesia perlu dipikirkan di tubuh Kopri. Atau justru emansipasi
untuk saat ini tidak diperlukan lagi; melihat para perempuan tidak lagi menjadi
bahan eksploitasi. Semuanya tergantung pada pilihan kader Kopri hari ini.
(tulisan sementara dihentikan. To
be continued. Hehehhehehe. Uye)
Selamat bergerak…..
[1]
Ditulis disela-sela menjelang forum dimulai dan secara ideal belum selesai.
[2]
Warga PMII biasa yang masih ‘belajar’ mempelajari PMII terutama gerakan
perempuan Islam-Indonesia.
[3] Istilah “sejarahwan” (juga istilah-istilah lain) saya
gunakan tidak dalam rangka menciutkan perempuan. Istilah tersebut saya—juga
mungkin penulis lainnya—maksudkan sebagai arti ijmal; mencakup perempuan
(meski tidak umum, baca: ‘sejarahwati’). Footnote ini saya tulis,
mengingat ini disajikan pada forum kader perjuangan perempuan, selain juga memang
saya sambil menulis sembari meng-ingat-ingat ahli sejarah yang berjenis kelamin
perempuan.
[4] Lebih jelas kita bisa mengkroscek data-data sejarah;
apakah perilaku dan perannya merepresentasikan ‘perjuangan perempuan’ atau
tidak. Tetapi paling-tidak diambil sebagai dalil andil-perempuan
dalam ranah publik.
[5] Baca makna emansipasi lebih jelas, supaya tidak
tersesat lebih jauh
0 komentar:
Posting Komentar