Di sudut Ibnu Aqil
By: Winartono*




       Jika kita hanya selalu memakai kaca mata hitam, pastilah senja dan pekat yang kita rasakan. Sebaliknya jika kaca mata kita bening, kemungkinan besar keceriaan yang hadir di hadapan kita. Manusia itu layaknya orang buta dalam kegelapan, tak dapat memandang apapun bahkan mungkin kepada dirinya sendiri. Banyak yang jadi (semakin) lupa kalau dirinya "telah lupa", "sedang lupa", dan pasti, kalau begitu adanya, juga "akan lupa".
Berbahagialah orang yang dalam dirinya ada Tuhan, otaknya seirama dengan Ar Rahman, hatinya setia dengan Al Hakim sekaligus Ar Rahim, dan nafasnya mengandung rahmah ilahiah, meski dunia tak pernah bercerita tentangnya.
Zaman kini telah menjadikan Tuhan enggan menammpakkan dirinya di hati manusia, sekalipun di tempat-tempat suci, apa lagi nur atau pun dzatNya. Sebab Tuhan telah "dilembagakan" dalam simbol-simbol yang padahal dulunya "dicipta" oleh Nya. Ia tak lagi "memanusia", hingga terasa kering bagi penimbaNya.
Semua "dinilai" hingga nilai pun berusaha dimaterikan menurut kehendak serabutan modernitas yang cenderung temporer. Banyak yang sudah lari dari fitrah kemanusiaannya. Sedangkan yang masih benar-benar memegang prinsip kemanusiaannya dianggap amoral, konservatif, dan tak terdidik. Sampai-sampai ide-ide, yang meski tak begitu subversif, dianggap tidak ilmiah. Sesuatu bisa dikatakan ilmiah jikalau (salah satunya) ada referensi. Ironisnya referensi dimaknai dengan hal-hal yang nyambung dengan logika-logika yang mereka gunakan. Dengan bahasa sederhannya, referensi haruslah berwujud literatur-literatur "skolastik"-akademik (baca: kampus).
Mayoritas masyarakat modern hanya terfokus pada sebatas hubungan horisontal. Hal-hal yang bersifat spiritual atau hubungan vertikal diabaikan begitu saja. Semua dibendakan bahkan tuhan sekalipun. Sungguh kedzoliman yang terjadi, lebih biadab dari zaman "jahiliah" sebelum Nabi.
Dulu kejahatan itu diwujudkan hanya sebatas membunuh anak perempuan, zina, minum arak. Kalau sekarang lebih kejam lagi. Seiring dengan "kemajuan" zaman, bentuk kejahatan juga berubah. Sekarang setan pun makin pandai nan cerdik. Ia tidak lagi berani menampakkan wujud aslinya. Lewat transistor-transistor canggihlah ia bergerilya menggerogoti kemanusiaan kita. Ia tidak lagi hanya singgah di kuburan atau pun tempat angker lainnya. sebab ia sudah mulai "mensucikan" dirinya dan masuk dan dengan enjoynya menempati tempat-tempat suci. Hingga ia telah dijadikan "nabi" dan bahkan tuhan di kerajaan modernitas.
Ada benarnya juga perkataan seorang pujangga jawa kuno, Ronggo Warsito "……zaman edan, siapa yang tidak ikut edan tidak akan kebagian. Tapi lebih beruntung jiwa-jiwa yang selalu ingat dan waspada…". Sungguh suatu pilihan yang amat sangat berat konsekwensinya. Ada istilah "orang jujur pastilah hancur". Memang jika dilihat sepintas ungkapan tersebut benar. Sebab zaman sudah tidak lagi memihak dengan orang jujur (dan nilai-nilai moral lainnya tentunya). Yang jelas "hancur" disini berarti hancur menurut perspektif kedzoliman zaman (modernitas). Dan orang yang berjiwa suci pastilah akan rela dan enjoy memilih pilihan atas dasar dan pertimbangan prinsipnya, meski menurut zaman ia merasakan kepahitan dan kehancuran. Yang jelas hidup ini penuh dengan pilih memilih. Tinggal kita bijak atau gegabah dalam memilih. Hidup di dunia hanya sekali, sangat rugi kalau kita salah dalam memilih. Dan semua punya konsekwensi masing-masing.
Hidup di zaman yang oleh orang bijak disebut zaman edan, memang bisa dikatakan serba "susah". Sistem syaraf logika akal dan hati telah rusak sebab nyaris tak terpakai oleh manusia atas nama kholifah fil ardl. Yang ada hanyalah logika materi (uang) yang tidak sekedar menghegemoni di ranah wacana, tetapi juga di relung-relung praksis. Sehingga, masyarakat yang "diidealkan" adalah masyarakat modern yang pragmatis-oportunis, baik itu masyarakat yang berideologi komunis-sosialis atau pun liberal-kapitalis. Ironisnya, sementara itu "agama" dijadikan sebatas lembaga yang hanya mengurusi ritual-ritual (formal) tentunya oleh para oknum agama. Mereka menjadikan agama kehilangan salah satu substansi inti, yaitu aspek sosial. 
Seharusnya, agamalah yang patut menjadi solusi penengah terhadap realita (di setiap masa). Tidak sebaliknya, ia justru ikut “terjerumus” dalam arus modernisme (zaman edan). Agama tidaklah (sekedar) lembaga formal yang selalu membela kepentingan pengikutnya atau lebih-lebih para petingginya. Ia mengatur segala sisi kehidupan manusia beserta alam semesta. Kalau substansi liberatifnya kepada kaum mustadl'afin tidak terwadahi, maka sangat tidak patut ia disebut sebagai "agama". Ia telah kehilangan substansi.


 
(Tulisan Jadul)

2 komentar:

  1. Tuhan telah mati ungkap Nietzhe, digantikan dengan Tuhan-Tuhan baru buatan produk zaman modern...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya begitulah. zaman jahiliah perlu kita pahami sebagai konsepsi yang luas, tidak sesederhana cerita untuk menina-bobokan anak-anak kecil.

      Hapus