NU DAN SKETSA BURAM KE-NU-AN KITA[1]
(Sebuah Ikhtiar Membaca NU “Setengah” Kritis)
oleh: winartono[2]


Muqoddimah
            Hingga saat ini perbincangan tentang—atau paling tidak ada hubungannya dengan—Nahdlatul Ulama (NU)  boleh dikatakan masih menarik, tidak hanya bagi Nahdliyin, tetapi juga bagi non-Nahdliyiin. Meskipun ada indikasi melemahnya jumlah non-Nahdliyin ataupun orientalis yang concern meneliti/menulis tentangnya, wacana (Jamaah/jam’iyah) NU masih dianggap menarik tidak hanya bagi para akademisi, tetapi –lebih dari itu—bagi para politisi/pegiat perpolitikan.
            Menariknya wacana NU, pada gilirannya membawa nya menjadi objek/komoditas politik yang ‘menggiurkan’ selain juga tidak sedikit aktor-aktor politik yang muncul dari kalangan Nahdliyin. Suatu kondisi yang bisa jadi menguntungkan, tetapi juga sangat tidak menutup kemungkinan  merugikan NU. Jika dibandingkan dengan era—sebut saja—orde baru, kondisi NU di pasca reformasi 1998 jauh lebih baik, terutama jika dilihat dari semakin banyak munculnya aktor-aktor baik di legislatif maupun eksekutif. Bisa dikatakan ‘anak-anak’ NU tidak lagi hanya “meramaikan pesantren, masjid-musholla” dan diidentikkan dengan masyarakat pinggiran; manusia Indonesia ‘kelas dua’.
            Singkatnya, NU dengan sadar atau tidak tampaknya telah ‘ber-mertamorfosis’ lebih maju, terutama dalam politik kekuasaan. Pertimbangan NU untuk kembali ke khittah 1926 sampai saat ini barangkali adalah pilihan strategis dibandingkan dengan keterlibatan NU secara jam’iyah pada ranah politik praktis di masa lalu. Meski berbalik arah untuk kembali ke khittah, pada praktiknya nada-nadanya kondisi untuk netral—keluar dari silang-sengkarut politik praktis jauh dari kata mudah. Sehingga, ‘kembali ke khittah’ menjadi multi-tafsir tersendiri di kalangan elit-elit NU.
            Kita bisa melihat satu tahun terakhir misalnya (baca: menjelang pemilu legislatif, pemilu kepala daerah hingga pilpres), memberi efek pada ormas-ormas termasuk NU. Salah satu akibat yang pasti dari kondisi tersebut adalah misalnya; bagian jam’iyah NU mulai Lembaga, Lajnah, Banom hingga ‘sayap-sayap’ NU pun menjadi ‘sangat hidup’. Bagai mana tidak; lembaga, banom atau organisasi ‘sayap’ NU yang sebelumnya lama—bisa dikatakan—‘mati suri’, serentak menjadi ramai-hidup kembali. Dari kondisi tersebut, kita bisa melihat senyum ‘optimisme’ para kader setelah cukup lama senyap. Setelah itu, kita tidak bisa memastikan—kalau penulis cenderung ragu—apakah senyum euphoria tersebut tetap terjaga dan berlanjut dengan follow-up yang berarti.
            Ulasan di atas adalah sedikit gambaran sekilas. Di samping itu—misalnya—kita masih dihadapkan dengan beberapa tantangan dan ‘gelombang’ pasang-surut militansi (semakin pudarnya ideologi) di internal serta cukup disibukkan untuk merespon gerakan-gerakan ekstreme ‘islam’ yang berimplikasi pada disintegrasi bangsa Indonesia.

Nahdliyin dan Nasib Bangsa
            Membahas NU—saya anggap—sama juga membahas Bangsa Indonesia. Alasan sederhananya adalah NU adalah organisasi dengan basis massa terbanyak  (assawadul a’dzom) di Indonesia. Sebuah kuantitas yang mungkin bisa dibanggakan, meski kondisi ini rasanya tidak berbanding lurus dengan tingkat loyalitas. Alasan lain adalah, warga NU banyak dari kalangan menengah ke bawah. Kondisi ini hingga saat ini menyumbang stigma (golongan lain) bahwa NU identik dengan ke-kuno-kuno-an, miskin dan bahkan ‘kolot’; NU adalah Islam Tradisional-konservatif[3] (dalam arti stagnan, tidak progressif). Sedang, sejurus dengan stigma tersebut, kita tentu mengetahui bahwa ‘kemiskinan’ adalah termasuk deretan wacana/isu penting Negara tercinta ini.
            Sejarah juga sebenarnya sudah cukup membuktikan bahwa Nahdliyin; kaum pesantren serta para intelektual/ulama (sebagai Islam Tradisional-Progresif[4]) mempunyai porsi besar dalam berkontribusi atas perjuangan kemerdekaan Indonesia sebagai sebuah nation-state, meski fakta sejarah ini seringkali dikesampingkan atau bahkan dihilangkan. Dari sejarah, Nahdliyin—sebagai golongan tradisional-progressif—bisa dikatakan mempunyai ‘saham’ yang sangat berharga atas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.
            Berpijak—paling tidak—pada beberapa alasan di atas, NU ikut bertanggung-jawab atas nasib Indonesia. Sebab, kontribusi tersebut sudah tentu berimplikasi pada  kewajiban (responsibility) untuk menjaga serta menumbuh-kembangkan Integrasi NKRI. Dalam hal ini, yang bisa dilakukan jam’iyah NU paling-tidak adalah memberdayakan dan menjadikan warganya semakin lebih baik (berkah)[5]. Berkah bagi Nahdliyin tentunya juga berarti berkah bagi Indonesia. Singkat cerita, ‘memperbaiki’ NU berarti pula ‘memperbaiki’ Indonesia, begitu pun sebaliknya.
            Melihat hubungan resiprokal inilah, Nahdliyin sepatutnya berbangga sekaligus prihatin (apprehensive) atas kondisi yang ada. Pasang-surut integrasi NKRI—misalnya—sedikit-banyak adalah konsekuensi logis dari perpecahan di tubuh NU.[6] Dari sinilah sebagai bagian dari NU, kita harus sadar diri sekaligus percaya diri untuk membangun Negeri teristimewa ini.

Pelajar sebagai aset masa depan
            Dari ilustrasi yang cukup bertele-tele di atas, IPNU-IPPNU dan juga ‘sayap-sayap’ muda NU lainnya wajib mengambil peran dan mengobarkan ghiroh yang lebih dibandingkan golongan ‘tua’. Selain karena ‘amunisi’ tenaga dan fikiran yang masih segar, pelajar atau golongan ‘terdidik muda’ adalah aset masa depan. “syubbanul yaum rijaalul ghod” adalah ungkapan yang cukup tepat sebagai simpul deskripsi.
            IPNU-IPPNU hari ini adalah cerminan NU masa depan (sepuluh-duapuluh tahun yang akan datang). Di posisi inilah IPNU-IPPNU—juga sayap muda lainnya—menjadi bagian dari deretan proses untuk menjadi atau lebih tepatnya menuju wajah dan ihwal NU yang ‘dicita-citakan’. Para pelajar dan kaum ‘muda terdidik’ NU sudah seyogyanya menyadari hal ini untuk kemudian menjalani ‘proses’ tersebut dengan benar dan baik.
            Yang perlu dan penting juga untuk dilakukan oleh IPNU-IPPNU adalah berani melakukan otokritik atas kemandegan dan anomali ke-NU-an kita. Otokritik ini tentunya didasari pada niat dan ghiroh untuk menjadikan NU—baik jam’iyah maupun jama’ah—lebih baik, lebih berkelas; lebih berkah.
            Sebagai mana sebuah aset, IPNU-IPPNU dan kaum muda terdidik lainnya sudah pasti menjadi objek empuk infiltrasi sebagai ‘proyek jangka panjang’, pihak-pihak luar yang berkepentingan. Praktisnya, meski anggota/kadernya banyak yang belum memiliki ‘hak suara’ dalam pemilu, IPNU-IPPNU tetap saja menjadi bagian NU yang menarik. Lagi-lagi; menjadi aset adalah sebuah bargaining position yang tidak bisa disepelekan.


IPNU-IPPNU di tengah Carut-marut Perpolitikan
            Yang sepatutnya dilakukan oleh IPNU-IPPNU pada saat ini adalah ‘benar-benar’ netral dalam bidak politik-praktis, baik sebagai organisasi ataupun kader. Tanpa mengecilkan peran-posisi IPNU-IPPNU—menurut saya—biarlah urusan carut-marut politik kekuasaan (untuk sementara) digawangi atau dimonopoli oleh “NU-tua”. Dan sebagai kaum terdidik-muda NU—lagi-lagi untuk sementara—IPNU-IPPNU harus bersabar menjadi penonton-aktif sambil mungkin memberi usulan, teguran atau kritikan jika ada yang menyimpang; seraya mengambil pelajaran untuk masa depan.
            Sewajarnya pelajar (tholib), rekan-rekanita IPNU-IPPNU lebih cocok dan anggun untuk fokus belajar, mengembangkan diri dan concern pada penguatan karakter, doktrinasi,—mungkin perlu juga—militansi ke-NU-an dan nasionalisme sebagai benteng NKRI serta manifestasi Islam rahmatan lil ‘aalamiin.
            IPNU-IPPNU saya bayangkan menjadi salah satu kawah chandradimuka; wadah tirakat remaja NU untuk dipersembahkan di masa depan. Dari sinilah, diharapkan—dan saya yakin—akan muncul kader-kader unggulan Nahdlatul Ulama; kader-kader yang mampu lebih membangkitkan NU menjadi lebih berkualitas.

Menjaga-Mengembangkan Tradisi dan Merespon Masa Depan
            Pudarnya karakter atau bahkan ideologi adalah hal yang sangat tidak mustahil dialami oleh NU yang notabene berbasis massa sangat banyak. Kontrol atas warganya juga sampai saat ini sulit dilakukan oleh (pengurus) NU. Alih-alih kontrol, pengadministrasian warganya untuk membuat Kartu Tanda Anggota saja tidak juga terlaksana dengan maksimal. Memang terlalu kultural nya NU, hal-hal yang ‘berbau’ struktural-administratif sulit digalakkan. Inilah (kehebatan/kelemahan?) NU.
            Anggaplah (sementara) problem struktural-administratif itu semacam ‘hukum alam’ di NU. Sembari memperbaiki hal tersebut, kekuatan dasar kultural harus tetap dikembangkan. Sebab, hal ini—terutama bagi organisasi lainnya—sulit diwujudkan. Ungkapan humor “NU itu mudah dikumpulkan, tetapi sulit dibariskan sedangkan beberapa ormas lainnya sulit dikumpulkan tetapi mudah dibariskan” rupanya masih berlaku.
            Melihat kondisi hari ini, IPNU-IPPNU harus mengambil peran strategis untuk mempersiapkan NU di masa depan. Zaman tidak mungkin berjalan mundur, masa muda adalah anugrah yang juga tidak mungkin bisa diulangi dan IPNU-IPPNU harus memanfaatkan nya dengan baik. Warna-warni zaman adalah tantangan dan tidak untuk dijauhi apalagi dengan kaku dan antipasti.
            Setidaknya, IPNU-IPPNU merespon hal-ihwal kekinian dengan semangat al-muhaafazdu ‘ala al-qodiim as-sholih wa al-ahkdzu bi al-jadiid al-ashlah. Tradisi-tradisi (baik) yang identik dengan NU perlu terus dijaga dan dikembangkan sesuai konteks lokalitas dan mengimbangi kekinian. Dari pada pusing-pusing hingga terjerembab pada wacana dan laku politik praktis kekuasaan, rekan-rekanita IPNU-IPPNU sudah laiknya terus melakukan penguatan kaderisasi dan doktrinasi di kalangan pelajar— lebih-lebih tidak hanya di lingkungan/sekolah-sekolah yang sudah jelas NU.  Merawat “ritus-ritus” ideologis nahdliyah juga harus menjadi concern rekan-rekanita; misalnya dari pada hanyut dalam putaran ‘konflik’ kaum ‘tua’, IPNU-IPPNU bisa meramaikan masjid-mushola di desa-desa atau sekolah-sekolah dengan senandung barzanji-dziba’. Dan masih banyak lainnya yang secara jangka panjang lebih bermanfaat.
            Akhir kata, berproseslah untuk belajar menjadi dan berlaku NU. Di tangan rekan-rekanita lah wajah NU masa depan. Selebihnya Allahu a’lam.

#
Terimakasih, semoga bermanfaat.
Rasan-rasan ini ditulis di
Singosari, Malam Jumat 21-02-2014



[1] Tulisan “rasan-rasan”, ditulis kejar-tayang untuk disajikan pada seminar pelajar dan harlah  IPNU-IPPNU PAC Dukun Gresik pada Jumat 21 Pebruari 2014.
[2] Warga Indonesia biasa-biasa saja, juga jauh dari posisi istimewa di komunitas NU. Sampai detik ini masih belajar “menjadi serta berlaku”  NU. Mulai 2009 ikut nimbrung di LAKPESDAM NU Kota Malang
[3] Lihat dalam kamus arti leksikal dari kata konservatif dan lebih lanjut lagi cermati arti istilah (terminologi) sebenarnya.
[4] Saya lebih suka dengan istilah ini, sebab terrasa lebih mewakili ekspresi karakter NU/Nahdliyin
[5][5] Bukan kah arti berkah adalah bertambah-tambah lebih baik ‘ziyaadah al-khoir fii al-khoir’ dan terminologi berkah adalah salah satu icon Nahdliyin
[6] Atau mungkin disintegrasi/perpecahan adalah sebuah ‘godaan’ atau ‘cobaan’ bagi komunitas  atau bangsa besar. Allahu a’lam.

0 komentar:

Posting Komentar