Selayang Pandang Dunia Mahasiswa
(Sebuah Pengantar Untuk Mahasiwa Baru)
Muqoddimah
Bismillahirrohmaanirrohiim, saya awali tulisan pengantar ini dengan membaca basmalah dengan disertai niat yang tulus dalam hati, semoga dapat bermanfaat bagi sahabat-sahabat Mahasiswa Baru Fakultas Humaniora dan Budaya. Kemudian, saya juga berharap sahabat-sahabat Mahasiswa Baru sekalian juga mengawali dengan basmalah dan niat yang benar dalam mengawali studi. Niat yang benar adalah modal awal dan utama, yang kemungkinan besar menentukan dan lebih memantapkan langkah ke depan.
Niat yang kuat lah yang nanti akan mampu menuntun pada cita-cita atau capaian-capaian yang hendak kalian raih di kemudian. Niat adalah khittah yang mesti kita pijak sehingga tidak keluar dari main frame yang nantinya mengarah pada main goal meskipun kita tahu bahwa berhasil atau tidak adalah hak Allah. Esok memang misteri Ilahi, tetapi, berusaha (ikhtiar) adalah kewajiban kita sebagai manusia—makhluk Allah yang super istimewa. Oleh karena itu, dengan niat yang kuat—yang kemudian berusaha kita ejawentahkan dalam doa-ikhtiar—dan usaha keras serta laku yang sungguh-sungguh, semoga Allah menjawab dengan keberhasilan-kesuksesan, seperti apa yang kita cita-citakan. Amiin.
Tradisi Akademis
Dalam membincang tradisi akademis, sudah tentu kita akan membahas apa yang disebut Tri khidmah perguruan tinggi; Pendidikan, Penelitian/ karya, dan Pengabdian masyarakat. Tanpa ketiganya, perguruan tinggi akan mati—tentunya tidak patut disebut perguruan tinggi. Hilang salah satunya, akan menjadikan sebuah perguruan tinggi ‘pincang’. Ia adalah semacam rukun yang wajib ada dan benar-benar dilakukan untuk kemudian ditradisikan.
Mahasiswa adalah salah satu elemen penting dalam dunia akademis. Ia adalah inti dari learning process (ta’lim wa ta’allum), mengingat proses dan iklim belajar tersebut sangat beda dengan yang ada di sekolah menengah. Kemandirian mahasiswalah yang menjadi tolak ukur dalam belajar. Peran pembelajar pun berbeda dengan di sekolah. Mungkin bisa dikatakan peran pembelajar tidak lebih dari 40 persen. Hal ini biasanya akan kita rasakan ketika kita sudah menjalani perkuliahan.
Lebih lanjut, secara terminologi, istilah yang digunakan untuk menyebut seorang pembelajar pun berbeda. Di SMA atau SMP biasanya kita menyebut orang yang mengajar kita dengan istilah “guru” atau dalam bahasa inggris; Teacher. Ini berbeda dengan sebutan pengajar di perguruan tinggi. “Lecturer” lah yang biasanya digunakan, atau biasanya kita sebut dosen. Kedua kata tersebut terbentuk dari dua kata kerja yang berbeda arti dan makna, meski ada kemiripan.
Sebagai elemen penting civitas akademika, Mahasiswa harus selalu ingat dan berusaha melaksanakan tri khidmat perguruan tinggi, sekaligus menjadikannya sebagai alat ukur seberapa jauh ia benar-benar menjadi “mahasiswa”. Sebab tanpa melakukan tri khidmat, ia hanya sebenarnya ‘berpura-pura’ menjadi mahasiswa.
Rukun pertama menjadi mahasiswa adalah “belajar” (learning process). Belajar bagi Mahasiswa seperti layaknya proses jual-beli bagi pedagang. Rukun pertama ini mungkin kita anggap mudah dan pasti kita akan lakukan, tetapi pada kenyataanya—dalam pengamatan penulis—banyak sekali mahasiswa yang baik sadar ataupun tidak telah melupakannya. Sehingga, saya membayangkan bahwa mahasiswa yang meninggalkan proses belajar-mengajar adalah seperti penjual warung kopi ‘remang-remang’. Oleh karena itu, yang terpenting di warung ‘remang-remang’ bukanlah rasa kopinya atau menu makanannya, tetapi yang paling utama adalah polesan tampilan sexi dan servis plus para pelayan wanitanya. Sehingga, kopi dan menu makanan, yang semestinya menjadi elemen utama pembentuk sebuah warung telah dilupakan dan tergantikan oleh hal lain, yang barang kali sebenarnya hanya lah accessory pemikat.
Semoga, sahabat-sahabat Mahasiswa Baru tetap istiqomah—menjaga konsistensi dalam menjalani proses belajar di perguruan tinggi. Sudah pasti banyak sekali hal-hal lain yang nantinya sahabat-sahabat temui, dan barangkali lebih ‘menggoda’.
Rukun berikutnya adalah penelitian atau berkarya. Selain, belajar sebagai civitas akademika harus selalu berusaha untuk berkarya. Kebanyakan civitas akademika menerjemahkan ‘berkarya’ dengan doing research. Memang research sangat inheren dengan tradisi akademik. Karena dengan melakukan penelitian, diharapkan ilmu pengetahuan (science&knowledge) dapat dikembangkan, tidak hanya dipelajari. Dan ini adalah salah satu tugas kaum akademisi.
Selain doing research, mahasiswa bisa mewarnai dunia akademis dengan bermacam karya, selama bisa dan mungkin dilakukan. Semisal, mahasiswa fakultas Humaniora dan Budaya bisa berkarya melalui lembaga-lembaga tertentu atau secara mandiri dengan mencipta karya seni, berteater, menulis puisi, cerpen bahkan novel ataupun jenis karya lainnya. Sehigga khazanah dan tradisi keilmuan menjadi semakin lengkap dan kaya.
Rukun akademisi terakhir adalah Pengabdian Masyarakat. Mengabdi pada masyarakat atau lebih luasnya berkontribusi pada kehidupan juga menjadi tugas civitas akademika, yang notabene sebagai golongan yang lebih mengedepankan intelektualitas dan ‘terdidik’. Tradisi ini tidak jarang dilupakan, dan ironisnya mahasiswa dan civitas akademika lainnya bersikap elitis, jauh dari realita kemasyarakatan. Kampus yang semestinya menjadi bagian kecil dari masyarakat, justru berbalik arah, atau seolah-olah kampus beserta penghuninya adalah masyarakat terpisah.
Banyak media untuk menyalurkan pengabdian masyarakat, yang bisa dilakukan oleh mahasiswa. Ini bisa dilakukan secara mandiri seperti menyalurkan ilmu dan bakat kepada masyarakat sekitar; atau dengan bergabung dengan lembaga atau organisasi sosial kemahasiswaan, tentunya yang selaras dengan tujuan pendidikan atau pun tri khidmat perguruan tinggi.
Begitulah tradisi akademis perguruan tinggi yang bisa saya mencoba gambarkan. Tentunya masih banyak lagi keterangan yang perlu dipelajari dan dipahami.
Univerity: A very colourful habitat
University is a college or collection of colleges at which people study for a degree (Cambridge Advanced Learner’s Dictionary). Universitas memang mempunyai lingkup yang lebih luas dari pada institut atau sekolah tinggi, tetapi di Indonesia semua itu relatif sama. Terutama, dalam situasi sosial apapun jenis perguruan tinggi mempunyai kecenderungan heterogen (diversity). Sehigga, kehidupan di kampus bisa dikatakan sebagai miniatur atau cerminan sebuah masyarakat luas.
Sebagai Mahasiswa Baru, tugas pertama dan yang utama adalah adaptasi dan berusaha mengenali secara bertahap iklim, sarana, lingkungan dan situasi sebuah perguruan tinggi. Kemampuan beradaptasi ini akan mempengaruhi perjalanan berikutnya. Tidak sedikit mahasiswa yang gagal (akademik/hubungan sosial) justru karena ketidak mampuan mengoptimasi kemampuan/kualitasnya dalam proses belajar di perguruan tinggi. Sepengetahuan saya, hampir tidak ada mahasiswa gagal karena lemahnya daya intelektualitas. Sebab, saya masih meyakini bahwa mahasiswa baru adalah manusia ‘pilihan’, yang—minimal—telah berhasil melewati bermacam tes masuk.
Dalam hal ini saya menjadi teringat cuplikan teori sosial Darwinisme, bahwa yang akan menang bukanlah yang kuat—atau dalam perguruan tinggi; yang pintar, cerdas, atau mungkin anak orang kaya—tetapi yang mampu dan mampu beradaptasi dengan baik. Jika, kita bisa mensikapi kemajemukan dengan baik, insyaAllah kemungkinan besar kita akan diberi kelancaran.
Universitas memang menyajikan keberagaman, tidak hanya bermacam jurusan, orang-orang yang bermacam-macam, atau pun budaya. Di sana pula, bertemunya berbagai kepentingan, seperti kepentingan ideologis atau politis. Sebab, banyak yang menganggap bahwa perguruan tinggi adalah ‘ladang subur’ untuk menyemai tunas-tunas baru. Di ranah ini, universitas adalah miniatur negara. ‘Siapa yang menguasai banyak perguruan tinggi, ia akan cenderung mudah menguasai negara’. Maka, kita harus berhati-hati dalam memilah organisasi atau kegiatan yang hendak kita ikuti. Meski semua itu tergantung pilihan dan selera, kita harus tetap hati-hati. Memang, semua itu adalah nilai plus, tetapi tidak sedikit yang mengesampingkan dan bahkan melupakan learning proses. Akhirnya, keaktifan di organisasi atau menjadi aktivis lah yang dijadikan ‘kambing hitam’. Padahal, sepengetahuan saya, kebanyakan mahasiswa yang gagal kuliah atau drop out bukan karena mereka menjadi aktivis.
Dari paparan di atas, maka berdamailah dengan keberagaman yang ada. Karena itu adalah keniscayaan. Lari dan menyendiri—dan mungkin memperhebat diri sendiri—juga tidak menjadi jawaban dan solusi.
Perlunya motivasi dan strategi belajar efektif
Untuk menghindari kegagalan dalam proses belajar di perguruan tinggi, sebagai mahasiswa kita harus selalu aktif dan kreatif dalam mengeksplorasi strategi belajar secara berkelanjutan dan pandai memotivasi diri sendiri. Sebab saya kira tiap mahasiswa mempunyai background socio-cultural yang berbeda-beda dan kemungkinan besar masalah yang akan dihadapi juga berbeda. Sejitu apa pun strategi atau metode barang kali belum bisa ‘menjawab’ dan menjadi solusi yang tepat.
Apa pun background nya, sebagai mahasiswa kita harus percaya diri (PD). Sebab, percaya diri adalah bentuk self defence yang paling asasi. Tetapi, jangan sampai kita kebablasan, over PD, sehingga menjadikan kita arogan. Untuk itu, pada titik tertentu perlu kiranya kita menyeimbangkan antara Percaya Diri (PD) dengan Tahu Diri (diri).
Di samping percaya diri, memilih atau membuat konsep manajemen juga menjadi strategi tersendiri. Konsep manajemen disini paling tidak meliputi manajemen diri dan waktu—atau bahkan menajemen finansial, bagi yang mungkin pas-pas an. Jika kita pandai mengaturnya, maka kita tidak berat dalam menjalaninya. Disinilah kemandirian dan ketelatenan kita akan ‘diuji’.
Pahamilah bahwa kita selalu pada titik proses belajar, sampai kapanpun. Begitu juga studi di perguruan tinggi. Inilah deskripsi sangat pendek proses yang bisa saya sampaikan, berdasarkan sedikit pengetahuan dan keberhasilan serta kegagalan. Semoga bermanfaat bagi kita semua.
Akhirnya, setiap ada kesukaran pasti ada kemudahan. Selamat belajar dan berjuang. Dan ingat: KITA AKAN SELALU SEDANG BELAJAR. Good luck!!!

0 komentar:
Posting Komentar