Manajemen organisasi; sebuah pengantar[1]
Oleh: Winartono[2]


Sejak dilahirkan, secara esensial manusia mendapatkan dua predikat inti dalam kehidupan. Dua predikat tersebut adalah ‘manusia sebagai hamba Tuhan’ (عبد الله) dan juga ‘manusia dinisbatkan sebagai pemimpin’ (خليفة الله). Dalam mengarungi kehidupan di dunia, manusia dituntut untuk mampu memposisikan dua predikat tersebut secara seimbang dan harmoni.
Kata “عبد الله” adalah representasi dari posisi manusia sebagai makhluk individual. Dalam hal ini, posisi manusia adalah sebagai ciptaan Tuhan, yang notabene ‘lemah’. Meskipun begitu, manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang ‘sempurna’,  dibandingkan dengan makhluk Tuhan lainnya. ‘Sempurna’ disini bukan berarti bahwa manusia berada jauh dari kekurangan. Justru kata ‘sempurna’ dihadirkan untuk menutupi kelemahan-kelemahan pada diri manusia itu sendiri. Dijadikannya manusia sebagai pemimpin (خليفة الله) di bumi adalah salah satu bentuk manifestasi dari aspek ‘kesempurnaan’ tersebut.
Dalam mengarungi kehidupan, kesempurnaan yang sesungguhnnya akan kita peroleh jika kita sebagai manusia benar-benar mampu menjalankan fungsi kita sebagai hamba sekaligus pemimpin, sehingga terdapat keselarasan dan keseimbangan antara hidup pribadi, hubungan dengan masyarakat, bangsa, alam maupun dengan Tuhan.
Sebagai pemimpin (خليفة الله), manusia adalah aktor yang bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup. Rusak dan tidaknya kehidupan di dunia sangat dipengaruhi oleh ‘tangan’ manusia. Kata ‘pemimpin’ atau ‘خليفة’ disini mempunyai indikasi ‘mengatur’, ‘merawat’, ‘mengembangkan’, ataupun ‘mengorganisir’. Dengan demikian kita dipandang sebagai ‘makhluk sempurna’ tidak hanya didasarkan pada kualitas kita sebagai pribadi (عبد الله), tetapi juga sebagai makhluk sosial (خليفة الله), yang mampu bekerjasama dengan sesama manusia lainnya.

عليكم بالجماعة
            Berdasarkan beberapa paragraf di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa berorganisasi sangatlah penting. Karena dalam berorganisasi (جمعية), kita sebenarnya sedang berlatih untuk menjadi عبد الله  sekaligus jugaخليفة الله  yang baik.
            Istilah organisasi berasal dari bahasa Yunani organon dan Latin organum yang berarti alat, bagian, anggota, atau badan. Di tataran praksis, istilah organisasi bisa diartikan berbeda, tergantung dari sudut mana atau pada konteks apa istilah tersebut digunakan. Semisal, James D. Mooney mengartikan ‘organisasi’ sebagai bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai suatu tujuan bersama. Defininisi tersebut juga senada dengan apa yang diungkapkan oleh Chester I. Barnard, yaitu memandang organisasi sebagai suatu sistem dari aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih, dan masih banyak lagi definisi-definisi dari para tokoh. Dari berbagai macam definisi tentang organisasi, sebenarnya ada titik temu yang kemudian kita sebut sebagai ciri-ciri organisasi. Paling tidak, sesuatu bisa disebut organisasi apa bila: adanya sekelompok orang; ada hubungan kerjasama yang harmonis di antara individu-individu dalam kelompok tersebut; kerjasama didasarkan atas hak, kewajiban, dan tanggung jawab masing-masing individu untuk mencapai tujuan bersama.
            Dari penjelasan di atas, organisasi bisa didefinisikan sebagai badan dan organisasi sebagai bagan. Organisasi dalam arti badan adalah sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai suatu atau beberapa tujuan tertentu. Kemudian, organisasi diartikan sebagai bagan atau struktur adalah gambaran secara skematis tentang hubungan-hubungan, kerja sama dari orang-orang yang terdapat dalam rangka usaha mencapai tujuan (Manullang, 2005).
            Lebih rinci lagi, organisasi dapat dibedakan menjadi organisasi formal dan informal. Organisasi formal adalah suatu sistem kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dan dikoordinasi dengan sadar untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan organisasi informal merupakan kumpulan hubungan antarpersonal tanpa tujuan bersama yang disadari meskipun pada akhirnya hubungan-hubungan yang tak disadari itu berujung pada tujuan bersama. Dalam organisasi formal, tiap unsure organisasi mempunyai kedudukan, tugas dan fungsi-fungsi yang tegas, sedang dalam organisasi informal, kedudukan, tugas (job description) serta fungsi-fungsi itu tampak kabur.
            Selain formal dan informal, sebenarnya dalam konteks dan istilah yang berbeda, masih banyak bentuk-bentuk atau macam-macam organisasi lainnya. Di samping bentuk, dalam organisasi juga dikenal istilah prinsip-prinsip organisasi. Di antara prinsip-prinsip organisasi adalah: (a) perumusan tujuan yang jelas; (b) pembagian kerja; (c) delegasi kekuasaan atau pelimpahan wewenang; (d) rentangan kekuasaan; (e) tingkat-tingkat pengawasan; (f) kesatuant perintah dan tanggungjawab; dan (g) koordinasi. Prinsip-prinsip tersebut dimaksudkan untuk memperlancar jalannya sebuah organisasi.

Manajemen organisasi
            Manajemen adalah salah satu elemen yang sangat vital dalam organisasi. Jika disebut ‘organisasi’, maka secara otomatis ada ‘manajemen’. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Istilah manajemen bisa dirujukkan pada beberapa pengertian. Paling tidak ada tiga pengertian, yaitu pertama, manajemen sebagai suatu proses, kedua, manajemen sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen, dan ketiga, manajemen sebagai sebuah seni dan sebagai sebuah ilmu.
            Menurut Haiman (dalam M. Manullang) manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan bersama. Lebih sederhana lagi George R. Terry berpendapat bahwa manajemen adalah pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain. Dan, pada intinya dari definisi tersebut, ada tiga pokok penting manajemen, yaitu adanya tujuan yang ingin dicapai, pencapaian tujuan dengan cara mempergunakan kegiatan orang-orang lain, dan kegiatan-kegiatan orang lain itu harus dibimbing dan diawasi (oleh manajer).
            Secara teoritis, dalam manajemen harus ada sarana manajemen. Sarana-sarana manajemen dimaksudkan untuk mempermudah dalam pencapaian tujuan. Untuk mencapai tujuan organisasi, biasanya seorang manajer menggunakan beberapa sarana (tools), yang biasanya disingkat dengan ‘enam M’: men, materials, machines, methods, dan marets. Dari ke enam sarana tersebut, yang pertama menentukan lancarnya manajemen adalah factor men atau manusianya. Tidak jarang organisasi berkembang dan sukses dalam pencapaian tujuannya hanya (berawal) dari modal sumber daya manusianya yang berkualitas. Hal ini sering terjadi, khususnya organisasi nirlaba; organisasi non profit (financial) oriented. Banyak sekali organisasi yang sukses, meski berangkat dari keterbatasan sarana.
            Dalam keadaan apapun, keberadaan manajemen sangat penting bagi organisasi. Karena, secara sederhana, manajemen adalah ruh yang menentukan bagaimana pola organisasi dalam menggapai tujuan. Ada banyak tokoh yang berbeda pendapat mengenai fungsi-fungsi manajemen. Dan, pada intinya fungsi-fungsi manajemen meliputi: forecasting, planning/ budgeting, organizing, staffing, directing/ commanding, leading, coordinating, motivating, controlling, dan reporting. Dari fungsi-fungsi tersebut, seorang manajer dituntut untuk mampu mengatur jalannya sebuah organisasi.

Kepemimpinan (leadership)
            Faktor lain yang mendukung dan sangat mempengaruhi manajemen sebuah organisasi adalah pemimpin atau kepemimpinan. Jadi, seorang pelaku manajemen (baca: manajer) yang baik harus mempunyai jiwa kepemimpinan yang tinggi, mengingat manajer adalah orang yang bertanggungjawab penuh atas sebuah organisasi.
            Mengenai Kepemimpinan, banyak tokoh teoritisi yang memberikan pengertian yang beragam. Namun secara umum, pengertian kepemimpinan dibangun berdasarkan ciri-ciri individual, perilaku, pengaruh terhadap orang lain, pola-pola interaksi, hubungan peran, serta persepsi orang lain mengenai keabsahan dari pengaruh. Berikut ini adalah beberapa definisi yang cukup representatif untuk mewakili pandangan para tokoh atau teoritisi tentang kepemimpinan (leadership):
Kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok kepada suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (Shared Goal). (Hemhill dan Coons).
Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, yang dijalankan dalam situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi kea rah pencapaian beberapa tujuan tertentu. (Tannenbaum, Weschler dan Massarik).
Prof. Dr. Sarwono memandang bahwa kepemimpinan tidak lepas dari kehadiran pemimpin. Orang dapat disebut sebagai pemimpin apabila berhasil menumbuhkan pada bawahan perasaan ikut bertanggungjawab terhadap pekerjaan yang sedang diselenggarakan di bawah pimpinannya.
Prof. Prajudi Atmosudiro, SH berpendapat bahwa pemimpin adalah orang yang mempengaruhi orang lain agar mau menjalankan apa yang  dikehendaki.

Dari sini dapat disederhanakan bahwa kepemimpinan adalah sebuah proses mempengaruhi anggota untuk bekerjasama dalam menjalankan aktivitas organisasi dengan penuh tanggungjawab demi tercapainya tujuan yang dikehendaki bersama. Sehingga, atas dasar kepentingan bersama, kepemimpinan mensyaratkan adanya mutual relation; saling memberi manfaat. Oleh karena itu, yang perlu dihindari oleh seorang manajer (pemimpin) adalah tindakan represif terhadap struktur-struktur di bawahnya. Dan seyogyanya, seorang pemimpin—terlebih pemimpin organisasi berbasis pengkaderan atau khidmah (nirlaba/non-profit oriented)—bertindak sekomunikatif mungkin terhadap bawahan. Dan sebaliknya bawahan harus bersikap aktif-parsitipatif. Sehingga, dalam organisasi terjadi hubungan harmonis antar struktur (interpersonal).

Beberapa cuplikan teori mangenai Kepemimpinan
v  Trait Theory
·  Dasar pemikiran: Membedakan karakteristik individu pemimpin dari karakteristik bawahan
·  Stodgill’s Traits: Intellegensi, kekuasaan, percaya diri, tingkat enerjik/ aktivitas, pengetahuan yang relevan dengan tugas-tugas.
·  Kauzes dan Posner’s Traits: Kejujuran, melihat jauh kedepan, menggugah (inspiratif dan kompeten), kredibilitas pemimpin.
v  Behavioral Theory
·  Leader Behavior disebut juga dengan corak atau tipe pemimpin.
·  Tidak ada corak terbaik. Yang lebih mempengaruhi kepemimpinan adalah situasi. Sehingga, yang paling baik dan tepat adalah yang sesuai dengan situasi pada saatnya (kondisional).
v  Situational Theory
·  Menurut Fiedler’s contingency model, yang dianggap sebagai faktor situasi adalah hubungan atasan-bawahan, struktur tugas dan kekuatan posisi.
·  Menurut Path-goal theory, yang termasuk faktor situasi adalah karakteristik pegawai/anggota dan lingkungan.
·  Menurut Situational Leadership Theory, yang diperhitungkan sebagai faktor situasi adalah tingkat kesiapan bawahan.

Types of leadership
v  Dilihat dari tingkat penekanan pada tugas, adalah:
Ø  Laissez-faire behavior, dengan beberapa ciri sebagai berikut:
ü  Pemimpin cenderung mengabaikan karyawan/bawahan,
ü  Mengabaikan masalah,
ü  Menhindar untuk bertindak,
ü  Tidak melakukan follow-up
Ø  Transactional Leadership, dengan beberapa ciri sebagai berikut:
ü  Pemimpin kurang memperhatikan gagasan, perasaan dan kebutuhan anggota/ bawahan,
ü  Hanya memperhatikan penentuan sasaran, perencanaan, pengorganisasian, pemberian imbalan, disiplin dan pengendalian,
ü  Tidak mengembangkan potensi anggota/ bawahan secara penuh.

Ø  Transformational Leadership, dengan beberapa ciri sebagai berikut:
ü  Pemimpin memahami individu anggota/ bawahan,
ü  Memberi stimulasi intelektual,
ü  Merangsang inspirasi,
ü  Menjadi pola panutan.
v  Apabila dilihat dari pola hubungan adalah:
Ø  Otoriter (authoritarian)
ü  Keputusan sepenuhnya dipegang oleh atasan,
ü  Setiap langkah dalam aktivitas dan penentuan teknisnya diberikan satu persatu atau setiap saat oleh atasan,
ü  Atasan menentukan tugas tertentu bagi setiap anggota/ bawahan,
ü  Atasan cenderung untuk melibatkan penilaian pribadi dalam menilai kinerja anggoya/ bawahan,
ü  Kurang bersedia berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan kelompok anggota/ bawahan.
Ø  Demokratis (Democratic)
ü  Semua kebijaksanaan dibicarakan dan diputuskan melalui pembicaraan atau kompromi dengan anggota/ bawahan,
ü  Aktivitas yang akan dilakukan didiskusikan dalam kelompok,
ü  Anggota bebas untuk menentukan tugas dan kawan yang cocok baginya dalam bekerja,
ü  Atasan bertindak objektif dalam menilai anggota/bawahan
Ø  Kebebasan (Laissez-Faire)
ü  Bawahan mempunyai kebebasan untuk mengambil segala keputusan,
ü  Atasan hanya memberikan pendapat kalau diminta,
ü  Atasan sama sekali tidak turut berpartisipasi dengan kegiatan anggota/ bawahan,
ü  Tidak ada usaha untuk memuji atau mengkritik bawahan.

v  Charismatic Leadership
ü  Ditimbulkan oleh perilaku pemimpin (sebagai simbol), pemaparan tentang visi, komunikasi non-verbal, daya tarik nilai ideologi, kesan intelektual, gambaran tentang kesungguhan diri maupun pada pengikutnya, ajakan pemimpin atas kesetiaan pengikutnya, dan performance yang luar biasa,
ü  Mampu memberikan motivasi dalam menggapai tujuan organisasi,
ü  Ia dating (biasanya) pada saat-saat yang tidak jelas, terutama pada saat keadaan kritis melanda, dimana sangat diperlukan peran emosi, usaha yang luar biasa dan pengorbanan bersama,
ü  Pemimpin akan lebih baik manakala terdapat kombinasi antara karismatik dan transaksional (fokus pada kualitas interaksi interpersonal dengan anggota/ bawahan, menggunakan reward yang tepat dan tindakan korektif).
Dalam rangka menjalankan kepemimpinannya dan mengembangkan organisasi dengan tim yang solid, terdapat beberapa cara sebagai berikut:
Ø  Consultation, yaitu dengan melibatkan elemen-elemen organisasi dalam perumusan keputusan,
Ø  Rational Persuation, yaitu membujuk dengan cara yang rasional,
Ø  Inspiration Appeals (build enthusiasm), yaitu dengan membangkitkan semangat (emosional) untuk bertindak, bisa dengan menggunakan cerita-cerita menarik,
Ø  Inggratiating (get a good mood), yaitu dengan ajakan untuk ‘bersenang-senang’ dulu,
Ø  Coalition (get others support), yaitu denga mengajak orang lain untuk memberikan penjelasan,
Ø  Pressure, yaitu dengan menggunakan penekanan,
Ø  Up ward appeals, yaitu dengan meminjam nama orang yang berpengaruh untuk menyuruh,
Ø  Exchange, yaitu dengan tukar-menukar manfaat (mutual work); “kalau ada…..saya akan….”


Komitmen Organisasi
Faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam manajemen organisasi adalah Komitmen Organisasi. Komitmen seseorang terhadap organisasi seringkali menjadi isu yang sangat penting. Saking pentingnya, sampai-sampai beberapa organisasi menjadikan unsur komitmen sebagai salah satu syarat untuk memegang suatu jabatan/posisi yang ditawarkan.
Porter (Mowday, dkk, 1982:27) mendefinisikan komitment organisasi sebagai kekuatan yang bersifat relatif dari individu dalam mengidentifikasikan keterlibatan dirinya kedalam bagian organisasi. Hal ini dapat ditandai dengan tiga hal, yaitu :
1.    Penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi.
2.    Kesiapan dan kesedian untuk berusaha dengan sungguh-sungguh  atas nama organisasi.
3.    Keinginan untuk mempertahankan keanggotaan di dalam organisasi (menjadi bagian dari organisasi).
Secara singkat pada intinya beberapa definisi komitmen organisasi dari beberapa ahli penekanan yang hampir sama yaitu proses pada individu (anggota) dalam mengidentifikasikan dirinya dengan nilai-nilai, aturan-aturan, dan tujuan organisasi. Disamping itu, komitmen organisasi mengandung pengertian sebagai sesuatu hal yang lebih dari sekedar kesetiaan yang pasif terhadap organisasi, dengan kata lain komitmen organisasi menyiratkan hubungan anggota dengan perusahaan atau organisasi secara aktif. Karena pegawai yang menunjukkan komitmen tinggi memiliki keinginan untuk memberikan tenaga dan tanggung jawab yang lebih dalam menyokong kesejahteraan dan keberhasilan organisasi.
Komitmen organisasi dapat dibedakan menjadi beberapa bagian:
Allen dan Meyer membedakan komitmen organisasi atas tiga komponen, yaitu : afektif, normatif dan continuance.
Komponen afektif berkaitan dengan emosional, identifikasi dan keterlibatan pegawai di dalam suatu organisasi.
Komponen normatif merupakan perasaan-perasaan pegawai tentang kewajiban yang harus ia berikan kepada organisasi.
Komponen continuance berarti komponen berdasarkan persepsi pegawai tentang kerugian yang akan dihadapinya jika ia meninggalkan organisasi.
Sedangkan, komitmen organisasi dari Mowday, Porter dan Steers lebih dikenal sebagai pendekatan sikap terhadap organisasi. Komitmen organisasi ini memiliki dua komponen yaitu sikap dan kehendak untuk bertingkah laku. Sikap mencakup:
Identifikasi dengan organisasi yaitu penerimaan tujuan organisasi, dimana penerimaan ini merupakan dasar komitmen organisasi. Identifikasi anggota tampak melalui sikap menyetujui kebijaksanaan organisasi, kesamaan nilai pribadi dan nilai-nilai organisasi, rasa kebanggaan menjadi bagian dari organisasi.
Keterlibatan sesuai peran dan tanggungjawab pekerjaan  di organisasi tersebut.  Anggota yang memiliki komitmen tinggi akan menerima hampir semua tugas dan tanggungjawab pekerjaan yang diberikan padanya.
Kehangatan, afeksi dan loyalitas terhadap organisasi merupakan evaluasi terhadap komitmen, serta adanya ikatan emosional dan keterikatan antara organisasi dengan anggota. Anggota dengan komitmen tinggi merasakan adanya loyalitas dan rasa memiliki terhadap organisasi.
Sedangkan yang termasuk kehendak untuk bertingkah laku adalah:
Kesediaan untuk menampilkan usaha. Hal ini tampak melalui kesediaan bekerja melebihi apa yang diharapkan agar organisasi dapat maju. Anggota dengan komitmen tinggi, ikut memperhatikan nasib organisasi.
Keinginan tetap berada dalam organisasi. Pada anggota yang memiliki komitmen tinggi, hanya sedikit alasan untuk keluar dari organisasi dan berkeinginan untuk bergabung dengan organisasi yang telah dipilihnya dalam waktu lama.
Jadi seseorang yang memiliki komitmen tinggi akan memiliki identifikasi terhadap organisasi, terlibat sungguh-sungguh dalam keanggotaan dan ada loyalitas serta afeksi positif terhadap organisasi.
Cara menumbuhkan komitmen dalam berorganisasi antara lain dengan: Identifiksi, Keterlibatan, dan Loyalitas.



Eling  dulur………………….!!!
            Tulisan ini adalah tumpukan sampah yang tidak akan pernah bernilai kecuali dengan cara mendaur ulangnya melalui Practicing/ التطبيق:
Learning by Doing……!

والله الموفّّق الى اْقوم الطريق
Selamat berjuang
GOOD LUCK…..!
مع النجاح ......!




musafir
...............
lagi-lagi
di episode ke sekian ini
masih ku terbaring rapi
melelapkan diri
melangkahkan kaki
pada hamparan perjalanan

inilah masa
dimana diri terdampar
hilang rasa
tanpa benci, tepiskan cinta
kemudian terkapar

jauh....
hilang asa
terbawa ke nirwana

lagi-lagi
akulah musafir
tak ayal lah
pun tak jarang tersesat ku
tersudut di persimpangan

............

(Cah Angon)
                                                                                                                                              

   [1] Coretan ini disampaikan pada acara pelatihan leadership pada 26 April 2009 di Villa Tlekung Batu yang  dilaksanakan oleh IKAMARO (Ikatan Mahasiswa Bojonegoro) Malang.
   [2]المحاضر متخرّج في المعهد الاسلامي" منبع الفتوح" بتوبان جاوي الشرقية وكان رئيسا في حركة الطلبة الاسلامية الاندونيسية (PMII) شعبة ابن عقيل سنة  ٢٠٠٧ـ ٢٠٠٨ و يكون طالبا في الجامعة الاسلامية الحكومية بمالانج في شعبة اللغة الانجليزية وادبها كلية الاجتماعية و الثقافة.

0 komentar:

Posting Komentar