PEJABAT dan JABATAN TANGAN
(by: win-cah angon)


Pejabat dan 'jabatan tangan' sebenarnya adalah sama. secara fungsional,keduanya adalah alat perantara. jabatan tangan biasanya digunakan untuk perantara awal; tanda perkenalan, sambutan, atau mungkin hanya basa-basi untuk memulai suatu hal yang dikehendaki, atau juga hanya untuk menghangatkan suasana. Dan perkenalan atau sambutan bukanlah yang terakhir dan cenderung singkat. Begitu juga 'pejabat'. Ia adalah seorang perantara dari yang ia wakili. Ia mewakili berbagai kepentingan, untuk kemudian diwujudkan--atau minimal disampaikan.

Seharusnya mereka (PEJABAT dan JABATAN TANGAN) merepresentasikan 'kehangatan', 'sumeh'--welcome. Tetapi keadaan ini sering kali hanya diwujudkan oleh jabatan tangan saja. Pejabat yang seharusnya dengan 'sumeh' menjadi perantara/wakil, malahan seringkali bertolak belakang.

Dalam konteks ini PEJABAT sepadan dengan arti PANGREH PRAJA bukan PAMONG PRAJA. Term 'pejabat' berubah menjadi suatu hal/posisi yang sombong serta 'jumawa', dan tentunya terkesan menjadi sah dan wajar untuk melakukan apapun semena-mena dan sesuka-suka. Berbalik 180 derajat dengan term 'pamong praja', yang selalu siap mengayomi dengan hangat--'sumeh' (Eitts...saya tidak sedang menjelaskan Satpol PP, sama sekali tidak nyambung).

BERPALING
"Berpaling" adalah kebiasaan para penguasa--atau minimal bernalar 'kuasa'--bukan para pemimpin. Ini adalah efek dari penyalahgunaan arti dan fungsi JABATAN.

Kecenderungan ini wajar dilakukan oleh banyak orang yang sedang menjabat, karena baik sadar atau tidak telah memalingkan arti 'pejabat' dari 'jabatan tangan'. Oleh karena itu, banyak dari mereka yang lupa akan aspirasi, kepentingan dan keperluan yang ia wakili.

BERPALING--dalam hemat saya--adalah IMPOTENSI. Karena, berpaling adalah kata lain dari disfungsi. Fungsi yang semestinya tidak dilakukan dan justru hal-hal yang lebih bersifat 'asessories' tambahan dan polesan-polesan lah yang dijadikan fokus garapan.

Pejabat--yang disalah artikan--dalam imajinasi saya adalah seperti pria yang bertubuh kekar, gentle, dan berparas rupawan, tetapi mengebiri kelamin vitalnya, sehingga jadilah ia impoten.

Akhirnya, untuk yg sedang 'menjabat', ingat lah bahwa sebuah 'jabatan tangan'  tidaklah selamanya....ia hanyalah suatu perantara. Tidak lebih. Begitu pula menjadi pejabat. Oleh karena itu, mari kita kembali pada ".......wa tawashouu bil haqqi wa tawashouu bis shobri"

Wal 'afwu minkum
Allahu A'lam bis Showaab


Salam,


Putra Mulya
Posting Lebih Baru
Previous
This is the last post.

0 komentar:

Posting Komentar