Oleh: Winartono



Penghapusan kasta atau sistem strata konon bertujuan memperbaiki kualitas kehidupan sosial sebuah bangsa atau jenis komunitas lainnya. Tetapi pada kenyataannya “peniadaan” kasta tidak lain adalah "proses penggantian sistem kasta baru."

Orang-orang jelata tahunya hanya "beliau-beliau" itu orang-orang "pintar."

Setiap agama, golongan, partai, madzhab, ormas, ataupun aliran-aliran tak ubahnya sebuah gerobak sampah yang berlomba-lomba menawarkan, menjajakan ‘bungkusan’ sistem kasta/stratifikasi sosial yang menurut mereka ideal. Sangat beruntung sekali,bagi pemeluknya yang ‘kebetulan berada di derajat teratas.’ Dan yang kebagian paling bawah,hanya berusaha menghibur diri.

Anda tahu apa kata mereka kepada anak-anak nya?
ya, ini lah cobaan anak2ku. Kita musti sabar dan berlapang dada dalam menghadapinya." 

Sementara yang kebagian di atas, "ongkang-ongkang" ditemani cerutu wangi, yang kemudian asap-pekat yang ditimbulkannya mengembang..........................mengawang ke angkasa menjadi doa mereka sekaligus kutukan bagi yang lainnya. Sedikit demi sedikit gumpalan asap menjadi awan yang melukis angkasa, kemudian terakumulasi menjadi mendung. Dan si mendung pun murka. Saking murkanya air matanya membanjiri bumi, yang sangat santun dan sabar. Bumi pun menerimanya dengan senyuman.

Sementara si Jelata lagi asyik dengan serba kekurangannya serta kepapaannya, eee...tak tahunya ada kiriman mendadak dari atas. Ia tak bisa menolaknya. Keasyikannya menjadi terusik.

”Banjir datang.........................!!!”
Teriak orang-orang. Suasana jadi kacau, sebab banjir ini tidak seperti banjir-banjir sebelumnya. Kacau balau, hingga narasi yang dibuat oleh-oleh para elit dari berbagai golongan. Proyek-proyek—baik besar maupun kecil, tingkatan lokal hingga nasional—berantakan tak karuan.
Guyuran dahsyat telah menyapu-ratakan bangunan-bangunan. Pepohonan tercerabut bersih; pohon-pohon jati yang dulu dirawat dan dijaga ketat dari nafsu sebagian rakyat, runtuh menimpahi penjaga-penjaganya. Pohon beringin—yang dulu mudah kita jumpai di sudu-sudut kota sampai di halaman kantor dan sekolah-sekolah di negeri ini—hanyut dimakan air yang membawa murka. Hal ini juga menimpa pohon-pohon besar yang dulu dikeramatkan; hingga tumbang hanyut bersama para pemujinya.

Banjir telah menyapu bersih sebagian kehidupan di jagad raya.
Ada yang memaknai ini adalah musibah atas egoisme dan keserakahan sebagian manusia. Ada pula yang berpendapat ini hanya kejadian alam, yang tidak ada hubungan nya dengan tingkah-polah manusia.

Bermacam perspektif pengetahuan bermunculan.

Kehidupan terus berlanjut...........
Narasi-narasi baru akan segera diciptakan dan dimainkan. Dan proyek-proyek besar akan bermunculan kemudian.

Selamat datang new leviathan. Selamat datang new giant. Selamat menikmati menu-menu baru.
Para jelata kembali menikmati berbagai macam tipuan baru. Dan tetap gigih meng-komat-kamitkan mulut dengan bermacam mantra dan do’a.

***
Inilah sebuah cerita penguasa. Dan masih banyak cerita-cerita lainnya.
Next
This is the most recent post.
Posting Lama

0 komentar:

Posting Komentar