rindu
wanita
puisi oleh: winartono
hari-hari ini,
malam-malam
ini,
dan, mungkin
zaman akhir ini
sejauh dan
sesederhana
penginderaku:
”jahiliah yang pernah ditaklukkan
muhammad,”
”abad kegelapan yang dulu sempat
diusir oleh moyang bangsa eropa,”
”begitu juga,
zaman-zaman yang telah diwarnai oleh semisal;
sidarta, aji saka, yesus..........
dan juru selamat lainnya,”
kering—tinggal
ampas
tak berbuah—tak berasa
seperti malam
ini pula
ya, malam ini, kataku:
waktu dimana inderaku yang tak super kuat—
tak sekuat gerusan zaman,
tak setajam kekinian.............
masih malam
ini,
dan mungkin
hingga esok pagi:
aku tak melihat mariam,
aku tak ketemu fatimah,
aku juga tak jumpa..........
kartini
hanya srintil........!
ya, cuma srintil, yang lemah
tak sekuat ”srintil”nya ”dukuh
paruk,”
juga tak selihai nyai ”ontosoroh”nya
”bumi manusia,”
ahmad thohari mungkin tak menyangka;
malam ini srintil lemah,
—srintil ”murah,”
ia menurunkan ”bandrol”nya
sangat jauh dari harga semula......
sungguh murah........
pramoedya patut gelisah
dalam istirahat ”barzah”nya;
sebab nyai ontosoroh tak setegar
mulanya,
ternyata ia mudah pasrah
pada nasibnya—
pasrah pada zamannya.
mereka tak tahu arah
tersesat dalam belantara
dan parahnya.........
mereka tak merasa
mereka sungguh bangga,
apa lagi, sorak-puji
menyerta.
lagi-lagi.........
malam ini dan
mungkin juga
malam-malam
berikutnya............
tak ku temu
mereka,
yang
sesungguhnya,
yang
sefitrah-fitrahnya
yang bebas
tapi tetap ber-etika,
masih malam
ini.....
ku tunggu
mereka;
yang cerdas
dan mengerti jati-dirinya,
yang lincah,
tapi juga menggenggam wibawa.
ah.......................
aku jadi rindu
pada ibu ku
di jauh
sana................................................
malam-malang,
april 2010
0 komentar:
Posting Komentar